Memaparkan catatan dengan label petuah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label petuah. Papar semua catatan
Ketika Motivasi Amal Hanya Dunia
supiyan sauri
Assalamu'alaikum Wr. Wb, Alhamdulillah pada pagi yang terang penuh kecerahan ini kisah masih diberi kesehatan dan kenikmatan hidup, hari ini saya akan membagikan kisah yang perlu dibaca dan di perhatikan, berikut adalah kisahnya.
Yahya bin Yahya an Naisaburi bercerita, "suatu hari, seorang lelaki mendatangi Sufyan bin Uyainah dan berkata,"Wahai, Abu Muhammad (yakni Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang kelakuan istriku. Sungguh, aku adalah lelaki yang paling hina dan rendah di matanya".
Maka Sufyan menggeleng-geleng keheranan, lalu berkata, "Mungkin, hal itu terjadi, karena engkau menikahnya demi meraih kewibawaan?". Lelaki itu menjawab, "Ya, memang benar, wahai Abu Muhammad".
Sufyan memberikan nasihat, "Barang siapa berbuat karena ingin mencari kehormatan, niscaya akan diuji dengan kehinaan. Barang siapa berbuat lantaran semata karena harta, niscaya akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa berbuat karena dorongan agamanya, niscaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya Agamanya".
Kemudian Sufyan menyebutkan kisahnya, "Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak sulung, Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.
Sedangkan Imran, ia menikah karena ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya. Lalu Allah justru mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga istrinya mengambil seluruh yang dimikinya, tidak menyisakan untuknya sedikitpun. Aku pun merenung nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma'mar bin Rasyid datang menemuiku. Aku pun berdiskusi dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku akan hadits Yahya bin Ja'daj dan hadits 'Aisyah."
Hadits yang dimaksud adalah sabda Nabi S.A.W, "Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, status sosialnya, kecantikanya, dan dinnya (Agamanya). Carilah wanita yang beragama, niscaya kamu akan beruntung". (Tahdzibul Kamal fi Asma-i ar Rijal, al-Hafidz Jamaluddin al-Mizzi).
Semoga menjadi renungan untuk hari ini. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
8:10 PG
petuah
Derita Pecinta Dunia
supiyan sauri
Assalamu'alaikum Wr. Wb, pada pagi ini saya akan membagikan cerita, cerita tentang derita pecinta dunia yang sudah tidak ada lagi waktu untuk berubah, karena waktu telah usai.
Pecinta dunia serupa peminum Khamr, demikianlah Isa bin Maryam pernah menyatakan. Dahaga yang dirasa tak jua hilang, bahkan semakin parah, tak peduli berapa liter air yang melewati kerongkongan, berapa gelas Khamr yang sudah tandas, sebab ia memang bukan penawarnya. Itu adalah aktivitas palsu sebab menyibukkan, melelahkan, bahkan menyakitkan dalam harapan dan keyakinan akan terpuaskanya dahaga dengan terus menambah tegukan, padahal badan tak bisa lagi kuat menahan. Bukankah ini menyakiti dan menyiksa diri sendiri?
Maka dunia adalah hukuman bagi yang tidak mampu mengambil perbekalan pulangnya ke akhirat. Candu beracun yang membuat ketagihan, namun membunuh secara berlahan. Dan korban-korban yang terpedaya akan terus berjatuhan. Dilambungkan angan-angan, terpana akan kilauan, dan terbuai oleh kecantikan paslunya. Tapi ia tidak peduli. Bak pengantin penebar pesona dan kesan dekat akan kepemilikan, padahal ia akan berlari pergi, meninggalkan para pemujanya dalam kekecewaan yang dalam, sebab tertawan wajah menawan namun tak bisa memiliki.
Di antara pemuja dunia, ada yang mendapatkan hajatnya. Jerih payah yang tercurah memberi perolehan yang diinginkan. Kerja keras yang diperas membawakan pilihan-pilihan kenikmatan. Perjuangan yang ditempuh mendatangkan kelapangan bagi raga mulai melumpuh. Seolah-olah itulah hakikat nikmat, sedang jiwa yang merana ingin menghamba kepada Illah yang hak, menepuk angin sepoi. Sunyi dan sepi. Juga takut!
Namun, apakah sebutan kejayaan pantas disandang jika ia melahirkan kesombongan melampui patas? Merasa di atas dan ingin bebas, hingga melupakan kampung halamanya, akhirat, dan pembekalanya. Menyibukkan hati dengan keinginan tak terpuaskan dan ketenangan sesaat yang menjerat, kemudian menggelircirkan diri dari mengingat mati. Sedang ia adalah kefanakan yang keruh dan kosong.
Di antara mereka, ada juga yang tak beroleh apa-apa. Meski semua upaya telah dikerahkan, dan semua waktu telah dihabiskan. Kecintaan mereka tak berbalas, memukul ruangan kosong karena dunia yang tak juga peduli. Membiarkan mereka merana dalam kegagalah, menertawakan keinginan mereka yang terbang melayang jauh. Menenggelamkan mereka dalam sesal dan lelah yang tak terperi.
Lalu, apa artinya semua ini, jika berhasil dan gagalnya hanya memberi perihnya kesedihan dan kepahitan? Tak memperoleh apa yang dicari, tak sempat beristirahat, tak juga memiliki bekal kembali. Sedang waktu tak bisa diulang sebab kini saatnya pulang. Tak dapat diputar sebab pesta telah bubar.
Jiwa yang pergi meninggalkanya melolong sebab membawa tangan kosong. Dan yang tertinggal hanya menunggu berpindah ke tempat sampah. Sudah. Semuanya telah selesai, telah usai.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
7:32 PG
petuah
Gelora Semangat dalam Keterbatasan
supiyan sauri
Sabtu 19 Februari 2011, aku dan teman-teman bermaksud silaturahmi ke rumah salah satu Ustadzah di luar kota. Kami ingin mendapat arahan dan bimbingan juga kisah pengalaman beliau. Dalam perjalanan itu, kami ditemani seorang saudari muslimah dari kota yang kami tuju. Ia datang bersama seorang muslimah yang saya ketahui bernama Nafisah.
Nah, dari Nafisah inilah saya merasakan perjalanan kali ini mendapatkan double manfaat, tausiyah dari ustadzah dan kisah hidup Nafisah yang amat luar biasa.
Nafisah adalah seorang tunarungu. Nikmat pendengaran itu tak ia dapatkan sejak kecil hingga nikmat bicara pun tak sepenuhnya ia kuasai. Ia bicara dengan bahasa isyarat. Ternyata saudari muslimah tadi adalah karibnya yang juga memahami bahasa insyarat. Dialah yang menerjemahkan isyarat nafisah kepada kami dan bahasa kami kepada Nafisah.
Nafisah adalah seorang tunarungu. Nikmat pendengaran itu tak ia dapatkan sejak kecil hingga nikmat bicara pun tak sepenuhnya ia kuasai. Ia bicara dengan bahasa isyarat. Ternyata saudari muslimah tadi adalah karibnya yang juga memahami bahasa insyarat. Dialah yang menerjemahkan isyarat nafisah kepada kami dan bahasa kami kepada Nafisah.
Dengan segala keterbatasanya, terlihat Nafisah adalah sosok yang luar bisasa. Dia sangat ingin membicarakan, bercerita, mendiskusikan, dan menanyakan berbagai macam hal. Meski untuk itu kami harus bersabar menunggu terjemahanya. Karena untuk bicara dia harus menjaga satu persatu kata-kata yang diucapkan dengan satangat lamban.
Dari ceritanya, dia berasal dari keluarga Katolik. Ia masuk Islam pada 2006. Meski mendapat penentangan dari orangtua, hatinya tetap teguh pada pilihanya. Lebih dari itu, ia juga berniat untuk memakai jilbab. Pada awal masuk Islam dia sudah berjilbab meski kecil. Bayangkan, banyak di antara saudara kita yang sudah berislam puluhan tahun, tapi kesadaran memakai jilbab belum juga muncul. Dan pada 2007, akhirnya dia bulatkan tekad untuk memakai jilbab dan jubah. Kemudian Allah berikan dengan membuka hati keluarganya untuk membiarkanya menjadi muslimah seperti yang dimauinya. Kini dia tak hanya berjubah dan berjilbab tapi juga memakai cadar. Subhanallah.
Sesampaianya di tempat ustadzah, kami berdiskusi panjang dan banyak mendapatkan tausiyah dari ustadzah. Namun, karena Nafisah tidak bisa mendengar apa yang disampaikan oleh ustadzah, maka ia dan kawan kami tadi duduk di paling pinggir dan sibuk memainkan jari-jari mereka. Sesekali Nafisah tertarik dan bertanya kepada ustadzah dengan dibantu temanya menerjemahkan isyarat Nafisah kepada ustadzah. Ternyata teman kami yang menerjemahkan kata-kata Nafisah tadi juga belajar bahasa isyarat juga dari Nafisah.
Ustadzah memberikan kesempatan dan mempersilahkan yang lain yang belum bertanya untuk gantian bertanya jika ada yang mau ditanyakan. Beberapa detik kami terdiam, suasana jadi sepi. Tapi tak ada juga yang gantian bertanya, Subhanallah. Ustadzah akhirnya bilang: Nafisah yang tidak bisa bicara ingin sekali bicara, kenapa yang bisa bicara tidak bicara sebanyak-banyaknya? Harusnya yang bisa bicara ini bicara yang sebanyak-banyaknya, tidak apa bicara sebanyak-banyaknya jika bicara kebaikan, siapa tahu besok saya dipanggil Allah dan kita tak bisa bertemu lagi. Ucapan ustadzah secara menusuk hati kami.
Kami juga banyak mendengar kisah dari Nafisah. Salah satunya saat dia ingin membuat KTP. Ia bercerita, saat ingin mengganti KTP, pegawai pemerintah tidak berkenan memberikan ijin karena ternyata di kartu keluarganya semua anggotanya beragama Katolik. Nafisah sedih. Lalu, dia pun pergi ke masjid dan menyatakan Islamnya. Dihadapan beberapa orang dia bersyahadat dengan keras namun terbata-bata. Ia pun mendapat surat keterangan Islam dan diijinkan membuat KTP.
Nifisah juga mengungkapkan keinginanya untuk belajar tahsin al Quran dan menghafal. Namun karena pengajaran untuk membaca dan tahfidz al Quran untuk tuna rungu metodenya berbeda dan belum banyak yang menguasainya, keinginan Nafisah belum dapat diwujudkan. Benar-benar luar biasa. Padahal kita yang sudah sejah lama bisa membaca al Quran saja, sangat lemah semangat dan keinginanya untuk menanam kalam ilahi itu dalam lahan luas di otak kita.
Diakhir kesempatan sebelum kami pamit pulang kami minta ustadzah memberikan pesan sebelum kami pulang. Intinya beliau menasehatkan agar istiqomah. Tugas-tugas dakwah yang kita lakukan hari ini barangkali hasilnya belum tampak, tapi yakinlah bahwa semua itu tidak akan sia-sia. Bergeraklah seluas mungkin. Keluarga, anak, suami, dan siapapun sebenarnya bukanlah penghalang, kitalah yang sering menghalangi diri kita dengan ketiadaan tekad dan keinginan.
Masa muda adalah masa aktif, masa dimana kita harus banyak bergerak. Jika tak bergerak kita akan mati, atau sama dengan orang mati. Selagi masih bisa bergarak, tingkatkan dan perbarui gerakan-gerakan itu untuk bisa menghasilkan sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Menjadikannya lebih bermakna.
Aku mencatat baik-baik pesan Ustadzah. Bahkan salah satu dari kami ada yang menitikkan airmata. Nasihat-nasihat yang mengharukan ini semoga benar-benar meresap dihati kami dan semakin membuat kami lebih baik dari hari ke hari. Sungguh kenangan hari ini, silaturahmi kepada ustadzah dan bertemunya kami dengan Ukhty Nafisah adalah pertemuan yang luar biasa yang semoga kisah ini akan menguatkan langkah kaki kami ketika kami mulai dilanda lemah dan sepi. Semoga kisah ini bisa diambil hikmah dan pelajaranya.
Sumber : majalah ar-risalah : (syukur bertambah nikmat melimpak) oleh : Dian Kurniawati, Yogyakarta
9:49 PTG
petuah
Langgan:
Catatan
(
Atom
)



